Divers Music Studio



Untuk melihat lirik dan mendownload, klik icon di sebelah kanan judul lagu

Advertising

Click here for more.
review www.diversstudio.blogspot.com on alexa.com

Trend Musik

Industri musik kita pelan-pelan berubah, perubahan ini ditandai dengan merosotnya penjualan fisik (kaset dan CD). Kini muncul ternd baru yaitu trend digital mobile audio. Ini tetunya mebuat mayor label harus berfikir keras untuk bisa mensiasati merosotnya angka penjualan kaset dan CD. Harus diakui trend teknologi tidak bisa kita hindari. Tapi komplikasi industri musik kita yang didominasi oleh barang bajakan juga memberikan andil yang besar terhadap merosotnya penjualan fisik.
Bicara masalah bajakan, gue sempat berharap bila pemerintah ikut dalam memberantas pembajakan. Padahal dulu sempat, kalo barang bajakan tidak bisa dijual di Mal-Mal, kenyataannya sekarang tetap gampang didapat. Harapan lain muncul ketika Bapak Susilo Bambang Yudoyono (SBY) akhirnya berhasil merilis album ciptaannya yang dinyanyikan oleh artis-artis muda dan senior, hamper setiap hari di Metro TV muncul sepserti iklan layanan yang bunyinya kira-kira “hargai/selamatkan karya intelektual anak bangsa“ yang menurut gue sebenarnya iklan album Bapak SBY.
Pertanyaannya adalah apakah SBY tahu dan peduli bila album tersebut sudah ada bajakannya? Untuk sementara gue berpendapat, profesi SBY jelas-jelas bukan artis professional (masih sebatas menyalurkan hobi) dan income utama jelas bukan dari penjualan kaset dan CD, jadinya mungkin iklan di atas masih sebagai harapan, angan-angan atau apalah namanya yang masih dalam konteks ajakan tapi blum tindakan.
Untuk digital sendiri ada sisi menariknya, karena siapapun bisa merekam karyanya dan menjualnya melalui CP (Content Provider) dengan format Ring Back Tone (RBT). Dan pada akhirnya mungkin kita tidak bisa lagi membedakan artis sebagai profesi atau artis sebagai hobi, karena pada saatnya siapapun yang punya karya yang bagus dapat langsung menjualnya tanpa harus melalui label.
Teks : Ridho Hafiedz
Sumber : Loud Music Magazine (januari 2008)


Fenomena musik indie

Apa yang menarik musik indie?band indie selalu bekerja keras untuk bisa ke pasar nasional maupun internasional.Mereka tak menginginkan tenar secara instan, seperti akhir-akhir ini banyak sekali yang pingin terkenal secara instan.Dan setelah itu tenggelam tak tau kemana.Beda dengan band indie seklai mereka muncul ke permukaan di pastikan mereka tetap akan bertahan.Karena sebelum mereka terkenal mereka sudah punya penggemar lokal yang mencintainya.

Lihat saja jebolan band indie asal bandung PAS band.Grup musik yang mengangkat aliran rock, punk dan hip hop ini tetap bertahan sampai sekarang lantaran mereka sudah punya penggemar sebelum mereka seperti sekarang.Dia manggung dari panggung ke panggung pada tahun 1989 dan ternyata usahanya membuahkan hasil.

Kita bisa lihat di hampir kota pasti ada kelompok band-band indie yang belum beruntung ke dapur rekaman nasional.Tetapi mereka tetap berjuang untuk cita-citanya itu.Dan saya yakin mereka pasti akan berhasil jika mereka tetap bekerja keras.Memang tak mudah menembus pasar nasional,tapi jika lirik lagu serta penampilan mereka menarik lambat laun pasti akan di lirik oleh bos rekaman juga.


Sumber : http://andy.konblog.com

Musik yang diterima pasar indonesia
Entah kebetulan, sedang musim, atau hanya perasaan saya saja. Industri musik di Indonesia sedang dalam titik terendah dakam satu dekade terakhir. Beberapa orang menyatakan kualitas musikalitas industri musik (dan juga tentunya selera pasar) Indonesia pasca Peter Pan mengalami kemunduran.

Baiklah, kembali ke topik awal. Kebanyakan produk industri musik Indonesia hanya menjual nama saja. Bisa kita lihat, beberapa musisi yang sudah memiliki reputasi tinggi membentuk band baru. Namun, tetap saja menggunakan nama sang musisi tersebut untuk nilai komersial. Formatnya standar, "musisi dan bandnya": Andra and The Backbone, Steven and Coconutreez, Yovie and The Nuno, Ahmad Dhani feat. The Rock, Bondan feat. Fade 2 Black, Syahrani and Queensfireworks, Maia and The Queen's Army, dan beberapa lainnya.

Jika memang percaya dengan kualitas musiknya, mengapa band tersebut tidak yakin (percaya diri) dengan identitasnya sendiri — tanpa perlu menunggangi popularitas sang musisi senior?

Mungkin saja, band tersebut adalah proyek pribadi sang musisi senior tersebut. Dalam artian, musisi senior tersebut yang merancang, mengendalikan, dan mengkonsep materi band tersebut — sementara personil lainnya hanya bertugas sebagai eksekutor (player). Jika begitu adanya, mengapa mencantumkan "and the band", bukankah lebih baik disebutkan nama musisinya saja? toh, hanya dia yang "benar-benar bekerja".

Sebagai contoh, bisa kita lihat Ari Lasso. Dalam album perdana dan sekuelnya, Ari Lasso tidak membawa nama band-nya dalam menjual album. Walaupun bisa kita lihat, di dapur rekaman album tersebut banyak sekali musisi-musisi senior di dalamnya — termasuk personil dan mantan personil Dewa 19. Musisi-musisi senior tersebut hanya bekerja "di dapur rekaman". Untuk kepentingan panggung publik, Ari Lasso memiliki band sendiri — Ari Lasso Band — yang pada saat itu hanya bertugas sebagai eksekutor.

Apa mungkin saat itu belum ada tren seperti saat ini? Sehingga Ari Lasso tidak menggunakan "Ari Lasso and The something Band".

Oke, mungkin mereka semua benar-benar bekerja. Mereka berbagi tugas. Setiap personil memiliki kontribusi yang cukup besar dalam proyek band tersebut — ya, sang musisi senior wajar jika berkontribusi lebih. Jika begini, mengapa tidak menggunakan nama bandnya saja tanpa tambahan nama sang musisi tersebut? bahkan di depan!

Toh, tampaknya pada saat ini, prestasi industri musik Indonesia adalah tergantung kepada proses promosi: brainstorming — brainwashing! Dengan lagu yang tidak jelek (ya, tidak juga dapat dibilang sangat bagus) dan dikombinasikan dengan pemaksaan melalui media massa — televisi, radio, internet, nada sambung telepon, dan lainnya — maka lagu tersebut diramalkan akan "sukses diterima oleh pasar". Apalagi untuk band pendatang baru yang tidak memiliki "dukungan musisi senior". Dengan kombinasi tersebut, jadilah band populer secara instant — dan juga bersifat disposable.