Divers Music Studio



Untuk melihat lirik dan mendownload, klik icon di sebelah kanan judul lagu

Advertising

Click here for more.
review www.diversstudio.blogspot.com on alexa.com

gilang ramadhan legenda drummer Indonesia


Tak salah bila ada yang menyebut Gilang Ramadhan sebagai legenda drummer Indonesia. Dialah satu-satunya drummer Indonesia yang disponsori Zildjian, perusahaan simbal Amerika Serikat sejak 1992 sampai sekarang. Yamaha Musik juga memberikan kepercayaan padanya sebagai satu-satunya duta dari Indonesia. Konsistensi Gilang pada alat gebuk ini pun tak perlu diragukan lagi. “I’m a drummer!” tegas Gilang.


“Jip, tos dugi?” tanya Gilang di seberang telpon. “Belom Kang, saya masih muter-muter di Bintaro,” jawab saya. Gilang begitu hangat menyambut kedatangan saya pagi itu ke sekolah musik miliknya, Gilang Ramadhan Studio Drummer (GRSD), di Jalan Pondok Aren 10, Bintaro, Tangerang. Mengetahui kedatangan tamu dari Bandung, putra bungsu sastrawan Ramadhan KH ini lebih suka mnggunakan bahasa ibunya, bahasa Sunda. Padahal, dalam kesehariannya Gilang lebih suka menggunakan bahasa Indonesia atau bahkan bahasa Inggris. “Yeah, nice picture. Very cool,” ujar Gilang saat menunjukkan foto-fotonya kepada Pra Budhidarma, musisi yang diajaknya bersama-sama membangun GRSD.


GRSD boleh dibilang obsesi lama Gilang. Sepulang dari Amerika pada 1985 silam, Gilang remaja sudah bercita-cita mendirikan sekolah musik khusus drum. Sayangnya, obsesi itu baru terwujud tiga bulan lalu. “Saya teringat pesan ayah saya. Beliau meminta agar kelak saya bisa membuka kesempatan kerja kepada orang lain,” papar Gilang memberikan alasan ihwal pendirian GRSD. Bagi Gilang, pekerjaan bisa berupa apa saja. Selain membuka kesempatan kepada sseorang untuk menjadi drummer, bentuk lain adalah memberikan kesempatan untuk me-manage sebuah perusahaan. “Saya sendiri lebih memilih brmain drum,” lanjutnya.


Gilang Ramadhan memang sudah menjatuhkan pilihannya pada drum sejak usia belia, delapan tahun. Saat tinggal di Paris, kolega bapak ibunya begitu hapal, setiap mereka mengunjungi keluarga itu, siap-siaplah untuk menjadi penonton konser tunggal Gilang kecil. Dia akan dengan sangat serius mempersiapkan pergelaran musiknya untuk menghibur para tamu. Sebelumnya, dia akan berbisik ke telinga ibunya, setiap ada tamu yang mengunjungi rumah mereka. “Tamunya suka musik tidak?”Jika jawabannya “suka”, Gilang akan langsung berpesan kepada ibu bapaknya supaya mereka mengatakan kepada sang tamu, anak bungsunya akan menjamu kehadiran mereka dengan pergelaran musik kecil-kecilan. Jangan sampai orangtuanya lupa menyampaikan pesan itu. Sebab, jika para tamu pulang tanpa lebih dulu menyimak aksi Gilang, bocah itu akan ngambek.


”Ketika di Prancis saya lagi main organ, entah bagaimana tiba-tiba ada drum. Itu katanya buat kakak saya,” kenang Gilang. Dua buah stik pun segara diraihnya. Satu dua gebukan di atas simbal semakin membuatnya makin penasaran. ”Begitu main, eh langsung bisa. Padahal belum pernah berlatih,” ujarnya sumringah. Boleh jadi perkenalan pertama sang maestro dengan drum membuat orang serumah berisik. Tapi tentu saja tidak bagi Gilang. Ingar-bingar menjadikannya nyaman di tengah belantara mode dan gaya hidup kosmopolitan.


Melihat Gilang menunjukkan talenta dalam menggebuk drum, sang kakak, Gumilang Ramadhan, mengalah. Dia menyarankankan agar Gilang memainkan drum, sementara dirinya segera meraih gitar. Tawaran itu belakang mengundang dilema bagi sang adik. ”Saya mulai bimbang, main piano atau drum, piano atau drum, drum, drum, drum.” Kebimbangan menguap perlahan, hingga akhirnya si bungsu melabuhkan pilihannya pada drum.


Keseriusan bermusik juga ditunjukkan dengan pilihan sekolahnya. Selama tinggal di Amerika, Gilang masuk dua sekolah musik skaligus. Kala itu dia masuk Music Department of Los Angeles City College dan Hollywood Professional School. Pagi di Hollywood, pukul 13 sampai jam 10 malam di Los Angeles. Asal tahu saja, sampai sekarang pun Gilang masih terus berlatih. “Semua instruktur GRSD harus latihan tiap hari. Padahal, maksudnya biar saya jadi smangat saja,” ujarnya sambil tertawa.


Ya, Gilang adalah sedikit dari penabuh drum profesioanl di Indonesia yang tetap eksis di jalurnya. Gaya permainannya khas dan berkarakter. Enerjik. Begitulah yang dikatakan banyak pengamat terhadap pukulan-pukulan drumnya. Baginya, drum adalah alat musik pertama di dunia. Gilang yang pernah menjajal nyaris semua alat musik dan warna musik ini meyakini drum sebagai alat musik yang bisa memainkan emosi orang. Drum dianggapnya mampu membuat seseorang tersenyum, tertawa, menangis, berjingkrak, dan lain-lain.


Lebih dari itu, perkusi nyaris menjadi media setiap agama di dunia. Saat berkunjung ke Irian beberapa waktu silam, Gilang menyambangi 200 kampung dan menemukan 200 gaya berbeda dalam memainkan perkusi. Keberagaman itu kelak melahirkan sebuah harmoni. Adalah ritem yang kemudian menjadi jejaring pembangun harmoni. ”Makanya hal pertama yang saya berikan pada murid adalah ritem. Karena dalam segala hal itu yang penting ritem,” ujarnya penuh keyakinan.


Ternyata ada semacam jembatan penghubung antara drum dengan piano yang digeluti sebelumnya. Kemampuannya menggerakkan tangan maupun kaki tampaknya tidak bisa dipisahkan dari minat lamanya, menekan tuts kibor. Sebelum berguru kepada David Smith, Gilang belia belajar secara otodidak. Kekurangsukaan Gilang dalam membaca not lagu semakin mendekatkannya dengan drum. ”Kalau main perkusi kan tidak usah baca not. Ternyata lebih sulit,” ujar murid maestro piano Slamet Abdul Syukur ini memberi alasan.


Musik memang nyaris mewarnai setiap fragmen hidup Gilang. Selain belajar piano dan drum, dia juga saya main flute. Saat teman sebayanya belum bisa main, Gilang sudah mampu memesona gurunya dengan mengeluarkan fibra. Musik, musik, dan musik. Itulah warna hari-hari Gilang selama menetap di Paris. ”Jadi, saya merasa musik memang sudah menjadi bagian dari diri saya,” tegasnya. Pilihan itu sudah jatuh jauh sebelum masa kedewasaan berpikir itu tiba. Pilihan yang bisa jadi membuatnya tercengang bila hal yang sama dilakukan buah hatinya. Meski setengah bercanda, Gilang jujur mengatakan, ”Sekarang kalau anak saya tiba-tiba bilang, ’Bapak saya mau jadi drummer’, saya akan tanya lagi.”


Pilihan ngedrum memaksa Gilang ogah-ogahan belajar di skolah umum. Sebagian waktunya habis untuk berlatih menggebuk drum. “Saya jarang main. Lebih sering latihan (main drum). Sampai sekarang istri saya bilang nama saya drum,” ujarnya diakhiri tawa renyah. Suami Shahnaz Haque ini mengaku tidak bisa melewatkan harinya tanpa main drum. Orang boleh saja bilang berlebihan, tapi “Saya main drum sampai tidur. Begitu bangun saya langsung mikir stik. Rasanya sudah menjadi kanker.”


Bagi Gilang, drum adalah segalanya. Drum adalah awal sekaligus akhir dari “hidupnya”. “Asal saya dari situ,” tegasnya. “Tidak mungkin saya ketemu miliarder terus menyuruh saya bisnis oli. Orang-orang Yamaha tidak mengenal Yamaha top head di Jepang. Saya malah kenal. Sampai sekarang, kalau saya mau main keliling Amerika, asal mau aja, sudah ada yang mensponsori,” ujarnya bangga. Yang menarik, selama ini Gilang tidak pernah ikut kontes. Namunn begitu, ayah tiga putri ini sering dapat penghargaan. ”Saya takut kalah,” ujarnya merendah. Gilang boleh saja merendah. Faktanya, kebesaran namanya bermula dari festival.


Sampai kapan Gilang akan terus bermain drum? Gilang menjawab prtanyaan itu sambil tersnyum. ”Saya hanya ingin terus brmain drum, bahkan sampai akhir hayat saya,” ujarnya mantap. Meski GRSD merupakan obsesinya sejak lama, Gilang sama sekali tidak bermaksud meninggalkan drumnya. ”Ke depannya, GRSD tidak akan dikelola oleh saya. Mungkin anak saya yang akan mengurusnya. Saya sendiri hanya akan ngedrum.”***